Perbandingan Proteksi Tabir Surya Spf 30, 50, dan 100 Terhadap Minimal Erythema Dose Akibat Paparan Sinar UVB Secara In Vivo

  • Dewa Ayu Manik Utari Universitas Ciputra Surabaya
  • Stefani Nurhadi Universitas Ciputra Surabaya
  • Desy Hinda Pramita Universitas Ciputra Surabaya
  • Stephen Akihiro Wirya Universitas Ciputra Surabaya
Keywords: perbandingan, tabir surya, SPF, MED, in vivo, UVB

Abstract

Indonesia secara geografis merupakan negara tropis yang terletak di garis khatulistiwa, sehingga menerima sinar matahari dengan intensitas tinggi dan konstan sepanjang hari. Tabir surya melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan efektivitasnya diukur melalui Sun Protecting Factor (SPF). Minimal Erythema Dose (MED) adalah interval waktu atau dosis terendah sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan eritema minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan proteksi tabir surya SPF 30, 50 dan 100 dengan melihat minimal erythema dose pada hewan coba setelah dilakukan paparan sinar UVB. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) sebagai hewan coba. Terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan dengan sampel setiap 1 kelompok adalah 7 sampel. Kelompok perlakuan dalam penelitian ini adalah kelompok tikus putih yang dioleskan dengan tabir surya dengan sun protecting factor 30, 50, dan 100 yang dipapar dengan sinar UVB, sedangkan kelompok kontrol pada penelitian ini adalah kelompok tikus putih tanpa dioleskan tabir surya yang dipapar sinar UVB. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran waktu MED yang timbul dalam satuan menit. Hasil analisis ANOVA satu arah menunjukkan nilai signifikansi <0,05, yang menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antara kelompok. Rata-rata waktu MED untuk kelompok kontrol adalah 13,57 menit, sedangkan untuk kelompok SPF 30, 50, dan 100 masing-masing adalah 341,29 menit, 560,43 menit, dan 702,14 menit. Dapat disimpulkan bahwa proteksi tabir surya SPF 30, SPF 50 dan SPF 100 berbanding lurus dengan waktu perlindungan, semakin tinggi nilai SPF tabir surya maka semakin tinggi waktu perlindungannya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Diffey, B. L., dan Farr, P. M. (2017). Ultraviolet erythema: dose response and mediator diffusion. Photochemical & Photobiological Sciences.
Draelos, Z.D., dan Thaman, L.A. (2006). Cosmetic Formulation of Skin Care Products. New York: Taylor & Francis Group.
Geoffre, K., Mwangi, A. N., & Maru, S. M. (2019). Sunscreen products: Rationale for use, formulation development and regulatory considerations. Saudi Pharmaceutical Journal, 27(7), 1009-1018.
Kang, S., Amagai, M., Bruckner, A. L., Enk, A. H., Margolis, D. J., McMichael, A. J., dan Orringer, J. S. (2019). Fitzpatrick’s dermatology edisi 9. New York: McGraw-Hill Education.
Khan, M. A. (2018). Sun protection factor determination studies of some sunscreen formulations used in cosmetics for their selection. Journal of Drug Delivery & Therapeutics. 8(5), 149-151.
Kohli, I., Nicholson, C. L., Williams, J. D., Lyons, A. B., Seo, I., Maitra, P., Tian, X., Atillasoy, E., Lim, H. W., dan Hamzavi, I. H. (2020). Greater efficacy of SPF 100+ sunscreen compared with SPF 50+ in sunburn prevention during 5 consecutive days of sunlight exposure: A randomized, double-blind clinical trial. Journal of the American Academy of Dermatology, 82(4), 869-877.
Lim, H.W., dan Draelos, Z.D. (2009). Clinical guide to sunscreens and photoprotection 1st ed. Boca Raton: CRC Press.
Linden, K. G. (2018). Commentary: sunscreen sun protection factor (SPF): is higher better?. Journal of the American Academy of Dermatology, 78(5), pp 911–912.
Rachmawati, P., Sagala, R.J., dan Kambira, P. F. A. (2021). Tinjauan pustaka bentuk sediaan tabir surya bahan alam, keamanan dan efektivitas tabir surya. Jurnal Farmasi Indonesia, 13(1), pp. 25-39.
Risman, M., Furi, M., Agustini, T. T., Muharni, S., dan Djohari, M. (2022). Uji aktivitas tabir surya fraksi etil asetat daun petai belalang (Archidendron clypearia (jack) nielson) secara in vitro dan in vivo. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia, 11(1), pp. 32-38.
Sulistiyowati, A., Yushardi, dan Sudarti. (2022). Potensi keberagaman SPF (Sun Protection Factor) Sunscreen terhadap perlindungan paparan sinar ultraviolet berdasarkan iklim di Indonesia. Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan,12(3), pp. 261-269.
Sugiyono. (2024). Metode penelitian kuantitatif edisi 3. Bandung: Alfabeta.
Williams, J. D., Maitra, P., Atillasoy, E., Wu, M.-M., Farberg, A. S., & Rigel, D. S. (2018). SPF 100+ sunscreen is more protective against sunburn than SPF 50+ in actual use: Results of a randomized, double-blind, split-face, natural sunlight exposure clinical trial. Journal of the American Academy of Dermatology, 78(5), 902–910
Published
2025-03-20