Budaya Lokal sebagai Cultural Capital dalam Strategi Branding: Studi Fenomenologi pada Visual Kemasan Teh Botol Sosro "Wajah Asli Kebaikan Indonesia"

  • Rujiyanto Rujiyanto Universitas Bina Nusantara
Keywords: Modal Budaya, Branding, Budaya Lokal, Kemasan, Semiotika.

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya kebutuhan diferensiasi merek di tengah kompetisi pasar yang semakin intens, khususnya pada produk FMCG di Indonesia. Budaya lokal sebagai cultural capital menawarkan potensi strategis untuk membangun identitas merek yang autentik dan emosional. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana budaya lokal dimanifestasikan sebagai modal kultural dalam visual kemasan Teh Botol Sosro seri Wajah Asli Kebaikan Indonesia serta bagaimana strategi tersebut berfungsi dalam konstruksi identitas dan diferensiasi merek. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan analisis semiotika dua tahap Roland Barthes. Data diperoleh melalui observasi visual kemasan, dokumentasi ilustrasi resmi, serta kajian literatur terkait teori cultural capital, branding, dan identitas nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan berfungsi sebagai medium konversi budaya melalui tiga mekanisme utama: konstruksi mitos keaslian terdistribusi, re-placement nilai budaya dalam konteks konsumsi modern, dan kemasan sebagai antarmuka ritual yang mengubah konsumsi harian menjadi praktik kultural. Strategi ini efektif membangun keterikatan emosional, memperkuat posisi merek, serta menciptakan makna berkelanjutan berbasis identitas kolektif Indonesia. Secara teoretis, penelitian ini memperluas konsep cultural branding dengan menegaskan peran kemasan sebagai ruang ritual simbolik dalam konteks masyarakat kolektivis Indonesia. Implikasinya, integrasi budaya lokal secara reflektif dan inklusif dapat menjadi strategi branding yang relevan secara sosial sekaligus berdaya saing tinggi di pasar nasional.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Barthes, R. (1972). Mythologies. (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang. (Original work published 1957).

Budiman, K. (2004). Jejaring tanda-tanda: strukturalisme dan semiotik dalam kritik kebudayaan. Indonesiatera.

Dimara, A. (2020). Local Wisdom Visual dalam Desain Kemasan untuk Penguatan Identitas Merek Lokal. Jurnal Seni Rupa dan Desain, 23(1), 45-60.

Fatimah, F. (2019). Mitos, Ideologi, Dan Efek Komunikasi Dalam Teks Iklan Layanan Masyarakat Di Kabupaten Bone: Analisis Semiotika. Universitas Hasanuddin.

Holt, D. B. (2004). How Brands Become Icons: The Principles of Cultural Branding. Harvard Business School Press.

Juliana, R. (2018). Batik kultural Capital dalam Strategi Pemasaran Merek Fashion. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 20(2), 112-125.

PARAMITHA, P., Lukitasari, E. H., & Anwar, A. K. (2020). Analisis Makna Warna Ilustrasi Cergam Pindahnya Keraton Kartasura Ke Keraton Surakarta. Universitas Sahid Surakarta.

Rimbawan, A., Primanda, I. G. D., & Sumadewa, I. N. Y. (2025). Pengembangan Kemasan dan Identitas Visual Makanan Siap Saji Sayapku melalui Pendekatan Kualitatif. Jurnal SASAK: Desain Visual Dan Komunikasi, 7(2).

Sarwo Nugroho, A. (2025). Biopolitik Visual: Estetika Foto Selfie Pekerja Fmcg (Fast Moving Consumer Goods) Sebagai Regulasi Identitas Diri. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Sujalu, A. P., Emawati, H., & Milasari, L. A. (2021). Ilmu Alamiah Dasar. Zahir Publishing.

Susanto, A. B., & Wijarnako, H. (2004). Power branding: Membangun merek unggul dan organisasi pendukungnya. Mizan Pustaka.

Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing Company.

Published
2026-02-26