Studi In Siliko dan In Vitro Senyawa Flavonoid Ekstrak Air dan Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus Mauritiana) Sebagai Antibakteri

  • Fransiska Mochtar Universitas Abdurrab, Pekanbaru, Indonesia
Keywords: Ziziphus Mauritiana, Antibakteri, Flavonoid, Molecular Docking, Difusi Cakram

Abstract

Resistensi antibiotik terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus menjadi masalah serius kesehatan global. Daun bidara (Ziziphus mauritiana) mengandung flavonoid, seperti luteolin dan hyperoside, yang berpotensi sebagai agen antibakteri alami. Ekstrak daun bidara diperoleh dengan maserasi menggunakan air dan etanol 75%. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi cakram terhadap E. coli dan S. aureus. Uji in silico dilakukan menggunakan molecular docking (Autodock Tools) terhadap protein DNA gyrase subunit B (E. coli, PDB ID: 6F86) dan PBP2a (S. aureus, PDB ID: 6MRR). Validasi grid box ditentukan berdasarkan nilai RMSD ligan asli ? 2 Uji in vitro menunjukkan ekstrak etanol menghasilkan zona hambat 1418 mm (kategori sedangkuat), sedangkan ekstrak air 1014 mm (kategori sedang). Molecular docking memperlihatkan luteolin memiliki energi ikatan ?8,6 kcal/mol (PBP2a) dan ?7,9 kcal/mol (DNA gyrase), sementara hyperoside ?9,2 kcal/mol dan ?8,4 kcal/mol. Kedua flavonoid tersebut lebih baik dibanding ligan kontrol cefotaxime (?7,1 kcal/mol), dengan interaksi hidrogen pada residu aktif penting (Ser392, Thr621, Asn450). Ekstrak daun bidara memiliki aktivitas antibakteri signifikan terhadap E. coli dan S. aureus. Senyawa hyperoside menunjukkan potensi terbesar sebagai kandidat antibakteri berdasarkan kombinasi data in vitro dan in silico.

Downloads

Download data is not yet available.

References

-
Published
2026-02-20